Bertahun-tahun di dadaku ada lebih banyak mendung daripada hujan.
Tangis yang menolak jadi gerimis,
perih yang tertahan.
Mendung yang mengandung hujan itu memandang ke bumi,
menanti seorang yang sedih melintas.
Aku tak keluar rumah hari ini.
Kepada angin yang melintas dan kau yang berjalan agak mendongak.
Bunga-bunga memegang dadanya,
merunduk memberi hormat.
Dari bangku taman tua di sebuah puisiku,
kau menatap mataku sebagai orang asing.
Malam ini tidak ada siapapun
yang memisahkan kita, sayang,
selain bulan.
Detiap pagi ingin sekali aku menyampaikan
kabar gembira ini kepadamu.
Aku masih hidup
dan mencintaimu.
Cinta adalah sepasang mata.
Jau mata pancing, aku mata ikan
yang terluka.
Seluruh kota di mana kau tak ada di sana adalah kota mati.
Aku dan kau kini sejauh atau sedekat dadaku dan selembar foto masa remajamu yang selalu didekapnya.
Di luar cuma ada badai.
Sepasang lenganmu terentang,
tubuhku pengungsi.
Ciuman singkat di kelopak mataku malam itu telah memejamkan hatiku selamanya.
Seringkali aku tetap merasa bahagia, meski pun aku keliru.
Misalnya ketika aku mengatakan,
kau ada di dekatku.
05-05-2016