Kamis, 05 Mei 2016

Puisi Kecil untuk Syahira

Bertahun-tahun di dadaku ada lebih banyak mendung daripada hujan.
Tangis yang menolak jadi gerimis,
perih yang tertahan.

Mendung yang mengandung hujan itu memandang ke bumi,
menanti seorang yang sedih melintas.

Aku tak keluar rumah hari ini.
Kepada angin yang melintas dan kau yang berjalan agak mendongak.

Bunga-bunga memegang dadanya,
merunduk memberi hormat.

Dari bangku taman tua di sebuah puisiku,
kau menatap mataku sebagai orang asing.

Malam ini tidak ada siapapun
yang memisahkan kita, sayang,
selain bulan.

Detiap pagi ingin sekali aku menyampaikan
kabar gembira ini kepadamu.
Aku masih hidup
dan mencintaimu.

Cinta adalah sepasang mata.
Jau mata pancing, aku mata ikan
yang terluka.

Seluruh kota di mana kau tak ada di sana adalah kota mati.

Aku dan kau kini sejauh atau sedekat dadaku dan selembar foto masa remajamu yang selalu didekapnya.

Di luar cuma ada badai.
Sepasang lenganmu terentang,
tubuhku pengungsi.

Ciuman singkat di kelopak mataku malam itu telah memejamkan hatiku selamanya.

Seringkali aku tetap merasa bahagia, meski pun aku keliru.
Misalnya ketika aku mengatakan,
kau ada di dekatku.

05-05-2016

Senin, 29 Juni 2015

Yang Selalu Singgah Tengah Malam

Sepasang mata dan bibir terkatup dalam lelap tidurmu ialah puisi yang selalu kubaca sebanyak keraguanmu akan kata-kataku yang terlanjur tumpah tentang usaha menjadi baik-baik saja.

Sementara hangat yang diam-diam kuhantarkan lewat peluk yang kucuri dari punggungmu selalu melahirkan pertanyaan yang sama mengapa kita tak pernah lagi sama?

Kemudian pagi selalu menjadi perkara yang tak dapat ditunda, yang menerbitkan matahari di keningmu penerang jalan menuju pulangmu yang tak sanggup kucegah sebab aku tak pernah terlahir sebagai rumah.

Terima Kasih Sudah Mampir.


30-06-2015

Jumat, 12 Juni 2015

Kau Baca Saat Sendiri

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah. Ada yang mengharap pertemuam kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap terbangun buru-buru demi sebuah frasa "selamat pagi" dari bibirmu Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimamu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lingkung miliknya, dibalik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau taktertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam. Percaya lah

12-06-2015

Selasa, 26 Mei 2015

Bicara dengam diri sendiri

Berbicara dengan diri sendiri berarti aku mengeraskan kata-kata pada
kekasihku disaksikan ibu.
Dan adikku mencibir karena takut kehilanganku sebagai diri sendiri.
Mata yang cekung karena semalaman gelisah menunggu langit yang belum juga sujud
Aku terus-menerus membaca keresahan mimpi di antara alis mega-mega dan angin yang telah lama menciptakan ruang penciuman untuk merasakan bau siapakah ini yang bertukar nafas dengan pohon-pohon.
Rambutku yang berminyak yang dijaga telinga-telinga labil masih mendengarkan doa cakrawala.
Tempatku mengibaskan rindu sebebas mungkin
Aku masih berjaket sunyi menaklukkan kekasih yang sedikit keras kepala karena tak paham kandungan prosa jantungku yang terus berdenyut mengikrarkan puisi-puisi.
Leherku dengan buah jaqun yang kurus menyimpan jalan bagi kenangan dan kepahitan nasib.
Sementara kulitku yang membungkus kesetiaan, berdagingkan yang paling sejati. Setia pada urat dan syaraf yang mengantarkanku pada khayalan matahari
Bibirku yang tebal tak takut pada cuaca: apakah musim yang demam pada kemarau atau hujan yang demam pada musim?
Aku akan terus melafalkan nyanyian-nyanyian perih dalam kegembiraanbhuruf-huruf.
Sampai pagi kembali aku tidak akan menggantikan langkah-langkahku tetap sebagai ombak yang berguru pada pantai hatimu.
Aku akan terus menumpahkan hasrat sukma yang menjadi perahu.
Aku tidak takut pada benturan atau karang yang diledakkan.

26-05-2015

Jumat, 17 April 2015

Satu hari di Jakarta

Pagi hari.
Mereka adalah kebohongan sisa mimpi semalam.
Mereka adalah kesibukan yang ingin mengusir bintang dari gelap.
Mereka adalah petani yang mulai mencangkul sawah sawah milik konglomerat.
Mereka adalah petarung yang siap berkelahi dengan siapapun.

Siang hari.
Mereka hanyalah gurun yang merindukan hujan.
Mereka hanyalah keringat kuli panggul di pelabuhan.
Mereka hanyalah omong kosong politikus di televisi.
Mereka hanyalah penghuni langit jembatan.

Lalu sekarang sore.
Mereka menjadi sisa cat seniman hebat.
Mereka menjadi bocah sd yang sedang mengejar layangan di dusun.
Mereka menjadi bibir yang penuh keluh.
Mereka menjadi asap knalpot bis kota.

Akhirnya, tiba lah malam.
Mereka di buat tertawa oleh senja.
Mereka di buat menari oleh secangkir kopi.
Tapi mereka tidak tahu, mereka sedang di tipu oleh gelap.
Selamat istirahat para budak ibu kota.

19-04-2015

Selasa, 14 April 2015

Dongeng Ikan dan Kunang Kunang

Ada mata yang menjelma telaga.
Di dalamnya hidup seekor ikan yang terpesona pada angkasa, terpesona pada cahaya kunang-kunang.

Suatu malam, kunang-kunang itu terbang terbang begitu rendak di atas telaga itu, karena terpesona pada hening dasar telaga.
Alangkah bahagia ia yang hidup tenang di dalam sana, batin kunang-kunang memandang sang ikan.

Tiba-tiba ikan itu melocat, dan hap, ditelannya kunang-kunang itu.
Sejak itu angkasa terlihat selalu gelap, sang ikan rindu cahaya kunang-kunang. Sementara di dalam perut ikan, cahaya kunang-kunang itu menyala lebih terang.
Tapi sang ikan tak pernah bisa melihat cahaya itu.

Setiap mengingat kisah itu, Aku selalu terkenang padamu.
Dan kini kutahu, kenapa matamu adalah kebahagiaan yang selalu menatapku.

14-04-2015

Rabu, 25 Maret 2015

Dalam Satu Masa

Ada Masa Dimana tubuh melupakan jiwa.Saat malam tertahan cahaya. Waktu siang tertukar senja.

Aku mencintaimu dengan apa yang ada. Jika bumi Tak kuasa. Maka langit akan menjawabnya.

Biarkan ia hadir dan menyapa. Jangan kau tolak kedatangannya. Sebab itu dari sang pencipta.

Genggam juga tangan ku. Jika itu adalah samar. Maka engkau akan tersadar.

Biarkan titik dihatimu yang berkata. Hingga hidayah itu tiba. Kita sambut bersama sama. Dua hati yang saling mencinta. Dalam jarak yang tak terhingga.