Jumat, 17 April 2015

Satu hari di Jakarta

Pagi hari.
Mereka adalah kebohongan sisa mimpi semalam.
Mereka adalah kesibukan yang ingin mengusir bintang dari gelap.
Mereka adalah petani yang mulai mencangkul sawah sawah milik konglomerat.
Mereka adalah petarung yang siap berkelahi dengan siapapun.

Siang hari.
Mereka hanyalah gurun yang merindukan hujan.
Mereka hanyalah keringat kuli panggul di pelabuhan.
Mereka hanyalah omong kosong politikus di televisi.
Mereka hanyalah penghuni langit jembatan.

Lalu sekarang sore.
Mereka menjadi sisa cat seniman hebat.
Mereka menjadi bocah sd yang sedang mengejar layangan di dusun.
Mereka menjadi bibir yang penuh keluh.
Mereka menjadi asap knalpot bis kota.

Akhirnya, tiba lah malam.
Mereka di buat tertawa oleh senja.
Mereka di buat menari oleh secangkir kopi.
Tapi mereka tidak tahu, mereka sedang di tipu oleh gelap.
Selamat istirahat para budak ibu kota.

19-04-2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar