Sepasang mata dan bibir terkatup dalam lelap tidurmu ialah puisi yang
selalu kubaca sebanyak keraguanmu akan kata-kataku yang terlanjur tumpah
tentang usaha menjadi baik-baik saja.
Sementara hangat yang diam-diam kuhantarkan lewat peluk yang kucuri dari
punggungmu selalu melahirkan pertanyaan yang sama mengapa kita tak
pernah lagi sama?
Kemudian pagi selalu menjadi perkara yang tak dapat ditunda, yang
menerbitkan matahari di keningmu penerang jalan menuju pulangmu yang tak
sanggup kucegah sebab aku tak pernah terlahir sebagai rumah.
Terima Kasih Sudah Mampir.
30-06-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar