Senin, 29 Juni 2015

Yang Selalu Singgah Tengah Malam

Sepasang mata dan bibir terkatup dalam lelap tidurmu ialah puisi yang selalu kubaca sebanyak keraguanmu akan kata-kataku yang terlanjur tumpah tentang usaha menjadi baik-baik saja.

Sementara hangat yang diam-diam kuhantarkan lewat peluk yang kucuri dari punggungmu selalu melahirkan pertanyaan yang sama mengapa kita tak pernah lagi sama?

Kemudian pagi selalu menjadi perkara yang tak dapat ditunda, yang menerbitkan matahari di keningmu penerang jalan menuju pulangmu yang tak sanggup kucegah sebab aku tak pernah terlahir sebagai rumah.

Terima Kasih Sudah Mampir.


30-06-2015

Jumat, 12 Juni 2015

Kau Baca Saat Sendiri

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah. Ada yang mengharap pertemuam kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap terbangun buru-buru demi sebuah frasa "selamat pagi" dari bibirmu Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimamu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lingkung miliknya, dibalik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau taktertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam. Percaya lah

12-06-2015