Selasa, 26 Mei 2015

Bicara dengam diri sendiri

Berbicara dengan diri sendiri berarti aku mengeraskan kata-kata pada
kekasihku disaksikan ibu.
Dan adikku mencibir karena takut kehilanganku sebagai diri sendiri.
Mata yang cekung karena semalaman gelisah menunggu langit yang belum juga sujud
Aku terus-menerus membaca keresahan mimpi di antara alis mega-mega dan angin yang telah lama menciptakan ruang penciuman untuk merasakan bau siapakah ini yang bertukar nafas dengan pohon-pohon.
Rambutku yang berminyak yang dijaga telinga-telinga labil masih mendengarkan doa cakrawala.
Tempatku mengibaskan rindu sebebas mungkin
Aku masih berjaket sunyi menaklukkan kekasih yang sedikit keras kepala karena tak paham kandungan prosa jantungku yang terus berdenyut mengikrarkan puisi-puisi.
Leherku dengan buah jaqun yang kurus menyimpan jalan bagi kenangan dan kepahitan nasib.
Sementara kulitku yang membungkus kesetiaan, berdagingkan yang paling sejati. Setia pada urat dan syaraf yang mengantarkanku pada khayalan matahari
Bibirku yang tebal tak takut pada cuaca: apakah musim yang demam pada kemarau atau hujan yang demam pada musim?
Aku akan terus melafalkan nyanyian-nyanyian perih dalam kegembiraanbhuruf-huruf.
Sampai pagi kembali aku tidak akan menggantikan langkah-langkahku tetap sebagai ombak yang berguru pada pantai hatimu.
Aku akan terus menumpahkan hasrat sukma yang menjadi perahu.
Aku tidak takut pada benturan atau karang yang diledakkan.

26-05-2015